oleh

Revolusi Milenial Tawarkan Bentuk Gerakan Selain Aksi Massa

YOGYAKARTA – Aksi massa seperti yang digelar Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) dengan tajuk #GejayanMemanggil mendapat sorotan dalam diskusi yang diselenggarakan Youth Institute for Social Action (YISA) dan Lingkar Akademisi Reformis Indonesia (LARI) di University Club UGM, Rabu (06/11/2019) malam.

Diskusi dengan tema; ‘Revolusi Milenial! HAM, Demokrasi dan Pembangunan Dimasa Reformasi Lanjut’ menghadirkan pakar sosiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito. Menanggapi aksi milenial dalam #GejayanMemanggil, Arie mengungkapkan, aksi massa  harus dilihat secara objektif, agar esensinya tidak mengalami distorsi atau bahkan terjebak dalam ‘festival politik’.

“Mobilisasi massa oke, demonstrasi oke, tetapi jebakan terhadap praktik dan tindak kekerasan harus dicegah. Oleh karena itu kesadaran datang sebagai subjek itu harus ada dalam setiap aksi sosial, siapapun yang melakukan. Saya rasa tantangannya itu memang tidak hanya semacam apa gerakan kita? Tetapi tantangannya apa yang akan you jawab buat realitas yang berkembang,” ujarnya.

Arie menjelaskan, ketidakjelasan arah aksi demonstrasi adalah ketika massa yang bergerak tidak benar-benar memahami apa tujuan aksi dan belum melakukan kajian mendalam terkait tuntutan-tuntutan yang akan disampaikan. Menurutnya setiap aksi itu harus lahir dari proses dorongan untuk tujuan yang jelas,

“Biasa dalam sejarahnya itu harus ada dukungan, harus kita apresiasi. Tapi pada saat yang sama, pada saat aksi selesai harus ada kritik otokritik supaya apakah aksi ini akan menjawab sesuai harapan atau tidak? supaya terus berbenah. Saya katakan ia (Aksi #GejayanMemanggil) punya kelemahan tapi saya apresiasi dalam arti sensifitas politiknya ada, tapi menjadi tidak jelas karena itu spektrumnya luas, siapapun bisa bergabung waktu itu  dengan tuntutan yang beragam,” ujar Arie yang mantan aktivis ’98.

Ia juga menilai aksi-aksi seperti #GejayanMemanggil yang ingin mencotoh semangat aksi reformasi 1998, kurang tepat,

“Revolusi Milinial harus dibaca bahwa kebangkitan baru anak-anak muda dengan generasi yang berbeda dengan sejarahnya yang sebelumnya, tantangannya juga berbeda,” tukasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, salah satu aktivis mahasiswa yang turut dalam #GejayanMemanggil, Gendis Syari Widodari mengungkapkan, aksi #GejayanMemanggil menurutnya merupakan upaya untuk menciptakan kesamaan gerak atas banyaknya tuntutan masyarakat atas kebijakan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),

“Isu makin sektoral butuh payung bersama. #GejayanMemanggil itu kemudian memayungi beragam isu sektoral. Itu upaya membentuk cammon ground (kesamaan isu) diantara isu sektoral untuk membentuk isu gerakan substantif,” ujar Mahasiswa Departemen Politik Pemerintahan Fisipol UGM angkatn 2016 ini.

Namun demikian Gendis sepakat dengan Arie Sudjito bahwa aksi massa tidak menjadi ‘karnaval politik’. Menurutnya, gerakan itu hadir memang perlu melihat konteks. Dalam mengkritisi kebijakan publik, massa aksi perlu memiliki tingkat pemahaman yang lebih atas isu yang akan diusung dalam aksi.

Gandis percaya bahwa ada banyak koridor dalam mengartikulasikan keresahan publik,

“Ketika menempatkan aksi massa sebagai satu satunya jalur kupikir itu juga enggak terlalu produktif untuk gerakan masyarakat sipil ketika ingin menyampaikan tuntutan. Kita bisa mengisi ruang publik dengan diskursus dengan masyarakat, bisa juga ikut tim, JR (Judicial Review) atau perumus advokasi alternatif, seperti apa kebijakan alternatif yang diinginkan itu kan bisa jadi penyeimbang narasi sentral negara saat ini,” tutupnya. (saf)

 

News Feed